Categories: Daily Inspiration

Suara gemiricik air malam ini menemaniku yang tengah menyimpan rasa kesal dan cemburu.
Yah, aku cemburu! Cemburu pada dia yang selalu saja dipakai oleh Mbak Risa.

“Kenapa sih Mbak Risa selalu saja memakai dia? Kalo dia udah kotor selalu dibersihkan, disikat, disabunin, dan dibilas sampai bersih. Sedangkan aku? Aku sudah bertahun-tahun hanya digantungkan di paku yang menancap di dinding kamar mandi ini. Mau aku kotor, aku dihinggapi binatang, aku kedinginan, aku kekeringan, Mbak Risa ngga pernah peduli sama aku!,” kesalku dalam hati.

“Hei Gayung Merah, udah malem nih.. Tiduuur. Ngapain kamu cemberut kayak gitu. Jelek tau!” ledek Gayung Pink. Si Gayung Merah hanya diam. Diam menahan rasa kesal yang dipendamnya selama ini dengan Gayung Pink.

Lagi dan lagi si Gayung Pink menegur Gayung Merah..
“Gayung Merah, kenapa sih diem aja? Ada apa? Cerita donk sama aku..” pintanya pada Gayung Merah.

“Cerita ngga yaaaaah…” seru Gayung Merah setengah meledek.

“Ayo.. Ayo.. Ceritainlaah.. Kita ini kan bersaudara. Kita udah bertahun-tahun tinggal bersama di kamar mandi ini, masa kamu ngga mau cerita sama aku.”

“Oke, baiklah. Aku mau cerita sama kamu, tapi kamu janji jangan marah yaaa..” kata Gayung Merah.

“Iya, janji ! Aku ngga bakalan marah. Coba ceritain..”

Akhirnya terjadilah perbincangan antara si Gayung Merah dan Gayung Pink yang ada di kamar mandi Mbak Risa.

“Aku sedih, aku merasa ngga berguna. Aku ini jelek, aku ini kotor, aku ngga menarik!” Gayung Merah memulai cerita sembari menitikkan air mata.

“Lho, memang ada apa? Apa yang membuatmu sedih sobat?” tanya Gayung Pink, polos.

“Aku iri sama kamu, warna kamu menarik, bagus. Kamu selalu dipake Mbak Risa, selalu dibersihkan, disikat, disabunin, dan dibilas sampai bersih. Sedangkan aku? Aku sudah bertahun-tahun hanya digantungkan di paku yang menancap di dinding kamar mandi ini. Mau aku kotor, aku dihinggapi binatang, aku kedinginan, aku kekeringan, Mbak Risa ngga pernah peduli sama aku.”

Mendengar perkataan Si Gayung Merah, Gayung Pink menjadi sedih dan merasa bersalah..
“Gayung Merah, maafin aku… Aku ngga bermaksud merebut perhatian Mbak Risa.”

“Iya ngga apa-apa. Aku tahu, aku ini hanya berasal dari toko kelontongan di pasar yang harganya murah dan disediakan Bapak Kost untuk penghuni kostannya. Sedangkan kamu, kamu berasal dari Toserba yang dibeli Mbak Risa dengan hargan yang lebih mahal dan warnanya bagus sesuai dengan yang disukai Mbak Risa.”

“Ya Ampun.. Ngga gitu juga Gayung Merah.. Kita sama kok. Dari mana pun asalnya aku dan kamu, kita tetap sama-sama gayung,” kata Gayung Pink berusaha menenangkan Gayung Merah.

“Lalu, sekarang apa mau kamu? Kamu maunya gimana?” tanya Gayung Pink.

“Aku ingin disayang, aku ingin diperlakukan sama denganmu. Hanya itu.”

——————————————————————————————————

Kisah di atas merupakan sebuah contoh bahwa jika kita ingin berguna, kita ingin disayangi maka kita harus memiliki sesuatu yang lebih. Kita semua sama-sama manusia, sama-sama diciptakan oleh Tuhan dengan segala kelebihan dan kekurangan.

Gayung Merah merasa sedih dan merasa tak berguna karena dia dibandingkan dengan Gayung Pink yang lebih disukai pemiliknya. Ya jelas Gayung Merah kalah. Coba seandainya kedua gayung ini ditempatkan di kamar mandi orang yang menyukai warna merah, pasti dia akan lebih senang memakai Gayung Merah.

Well, itu hanyalah sepenggal kisah tentang Gayung. Semoga kita tak menjadi Gayung Merah yang kerjaannya hanya terus mengeluh. Kebanyakan mengeluh hati bisa-bisa melepuh.. Belajar untuk banyak-banyak bersyukur biar hidup makin makmur.. :)

Keep Learning, Sharing, and Growing :)

Salam manis,
Scoria Novrisa Dewi.

Spread the Word, like or share this page, your friends will also love it and thanks for it.

Tags:
Posted on Sep 9, 2013

About the Author

An extra ordinary woman, the Future Great Wife and Super Mom, comes from Belitung Island and stay in Bandung Indonesia :) Public Speaking Lover, always learning, sharing, growing, and blowing :)

4 Responses to “Gayungku Yang Cemburu”
Read them below or add one

  1. Oddie says:

    Hahahaha
    Saya ngakak baca ini:
    “… Dari mana pun asalnya aku dan kamu, kita tetap sama-sama gayung,”
    Selamat ya, sudah mencoba bercerita dari sudut pandang yang lain.
    Saya sangat terganggu dengan kesimpulan di akhir cerita. Kalau naskah ini saya edit, semua bagian itu saya potong habis tak bersisa!
    Dari awal sebenarnya tulisan ini sudah sukses mengurai pesan. Biarkanlah cerita itu yang mengungkap sendiri makna di baliknya. Sebagai penulis, gagasan besarnya kamu sembunyikan di situ. Pembaca akan selalu puas menemukan sesuatu tanpa perlu dituntun. Dan kepuasan itu rasanya sangat berdeda.

    • Hehee iya Mas, sebenernya dari awal pun aku suka cerita ini, namun ketika di akhir ada “ketakutan yang menghampiriku” takut ceritanya ngga ada pesan atau hikmahnya..
      thanks uda ngasih masukan, dapet pelajaran lagi nih.. :)
      pelajaran termahal yang belum pernah didapatkan di mana pun..

  2. briliagung says:

    Kalimat ini sebenarnya bisa dihilangkan mba > “Akhirnya terjadilah perbincangan antara si Gayung Merah dan Gayung Pink yang ada di kamar mandi Mbak Risa.”

    - Lalu pesan di akhir tulisan ko rada kurang nyambung sama ending critanya ya..
    Seperti : ” Semoga kita tak menjadi Gayung Merah yang kerjaannya hanya terus mengeluh. ”

    Akibat dari si Gayung merah terus mengeluh ga dicritain di atas.. Jadi semacam ada plot hole.. Begitu.

Facebook Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked by *.

Your Rating:
0 1 2 3 4 5

Categories

Contact Info

 NovrisaCha@yahoo.co.id

Top