Categories: Daily Inspiration

Assalamualaikum…

Tanggal 3 Januari 2014 bener-bener merupakan hari yang luar biasa bagiku. Bagaimana tidak, semalaman aku hanya bisa tidur 1 jam dikarenakan adikku, Monicha Triamos menangis di tengah malam. Aku tidak tahu apa penyebab dia menangis namun perasaanku mengatakan bahwa, dia sedih akan pulang ke Belitung. Sejujurnya aku pun merasakan demikian.

Malam sesebelum dia pulang, dalam sesenggukan tangisannya aku memeluknya sangat erat sembari mengipasinya sambil membelai hangat rambutnya. Sunngguh malam itu merupakan malam yang tak terlupa. Monic yang berusia 7 tahun namun baru pertama kali ini aku merasakan dia sungguh berat rasanya menginggalkan kakaknya seorang diri di Bandung.

Sesampainya mereka di Belitung, Ibu meneleponku dan bercerita bahwa monic nangis terus. Meski dia tak memberitahu apa penyebab dia menangis namun Ibu bisa membaca apa yang dia rasakan. Dia sangat sedih harus pulang dan dia masih ingin bersamaku di sini. Ini sudah hari kedua dia pulang, namun masih saja ia menangis dan tak mau menceritakannya. Setiap kali Babe bertanya kenapa dia menangis, tangisnya semakin menjadi-jadi. Aku pun menjadi sangat sedih mendengarnya. Tak terasa air mata mengalir di pipiku mengiringi jemariku bermain di atas keyboard menulis kisah ini.

Memang, mulai dari tanggal 25 desember 2013 sampai 3 januari 2014 kedua adikku Monicha dan Chiras sedang kuajak untuk berlibur di Bandung. Meski rasanya aku belum puas mengajak mereka jalan-jalan sebab mereka lebih sering menemani dan menungguiku di kantor.

Sehari sebelum mereka pulang, aku pun mengajak mereka jalan-jalan ke “de Ranch” di Lembang dan ditemani oleh sahabatku, Anita. Untung saja Anita bersedia menemani kami sebab apabila hanya kami bertiga, berbahaya sekali. Kami 3 beradik dalm 1 motor dengan menempuh jalan ke Lembang yang teksturnya itu berkelok-kelok seperti ular dan menanjak ke atas. Akhirnya Monic dibonceng oleh Anita dan Chiras saya yang bonceng naik motor.

Pada saat kami jalan-jalan itu, kubebaskan mereka mau mencoba permainan apapun di sana. Mulai dari naik perahu di danau, berkuda dengan menggunakan baju coboy, dan tanpa disangka Monic berani untuk Flying fox yang aku saja ngga berani. hehehee.. Luar biasa :D

Masih lekat dalam benakku ketika kemarin sehari sebelum mereka pulang, kami baru sampai di depan sebuh toko kue. Tak lama setelah dia turun dari motor, aku memanggilnya, “Moniiic”. Dia yang belum terlalu jauh melangkah pun menoleh ke arahku. Lalu aku lambaikan tanganku pertanda ingin dia mendekatiku. Dia pun datang menghampiriku.

Aku menarik tubuhnya dan memeluknya lalu aku berbisik di telinganya pelan-pelan, “kakak sayang monic”.
Tiga kata itu terasa begitu sangat dalam dan meneteslah air mata di pipiku. Dia pun membuang wajahnya seolah tak mau aku melihat matanya yang tengah berkaca-kaca.

Entah kenapa aku merasa begitu sedih dan berat melepaas kepulangan mereka terutama monic. Bukan berarti aku tak menyayangi adikku, Chiras. Tapi karena monic ini masih kecil dan dia perempuan aku merasa dia amat merindukan kasih sayang. Kami 4 beradik, monic bukan anak bungsu sebab dia masih memiliki adik, Ades namanya. Dan di antara kami ber4 mungkin sangat jarang merasakan belaian lembut Ibu kami.

Bukan karena Ibu tak menyayangi kami, tetapi mungkin memang setelah kami tumbuh besar (bukan bayi lagi) kami terasa sangat jarang dimanja. Dan ketika Monic di bandung, aku memang lebih banyak memanjakannya, memeluknya, menciumnnya, membelainya. Jadi itu yang membuat kami sama-sama saling berat melepaskan rasa sedih ketika kami harus berpisah.

Semalam, sempat kutuliskan selembar surat untuknya. Aku pun sudah tak hafal apa isinya yang intinya adalah aku mengungkapkan segala rasa sayngku padanya dan harapan-harapanku padanya di masa depan.

Aku sedih, ketika banyak orang mengatai monic ini gendut dan hitam. Padahal tidak begitu. Monic tidak gendut, dia masih dalam batas yang wajar. hanya saja, dia memang lebih gemuk dibandingkan dia waktu masih kecil. Lalu, dia memang paling hitam di antara kami ber4. Mungkin dikarenakan dia lebih banyak bermain dan terkena sinar matahari.

Meskipun dia anak gadis yang tomboy, namun hatinya sangat lembut. Dia cepet banget ngambeknya, tapi selama di bandung dia tak pernah ngambek dan dengan senang hati menunggui ku di kantor. Padahal aku khawatir dia akan merasa bosan. Apalagi ketika kami ke De Ranch. Saat di sana, aku membebaskan mereka mau main dan makan apapun yang mereka mau dan mereka suka.

Sangat tidak menyangka Monic berani main Flying-Fox. Aku saja masih takut. Tapi aku melihat ketika ia melincur, ia sangat menikmatinya. Lalu ketika aku tanya pas dia udah selesai, kata dia, “nyaman”.Enak maksudnya.

Ahhhh banyak hal yang ingin kuungkapkan tentang Monic. Anak yang sholeha, cantik, manis dan pintar.

Kakak sayang Monic :)

Foto kami liburan ke de ranch, lembang, Bandung.

Foto kami liburan ke de ranch, lembang, Bandung.

Spread the Word, like or share this page, your friends will also love it and thanks for it.

Posted on Jan 4, 2014

About the Author

An extra ordinary woman, the Future Great Wife and Super Mom, comes from Belitung Island and stay in Bandung Indonesia :) Public Speaking Lover, always learning, sharing, growing, and blowing :)

2 Responses to “Kakak Sayang Monic”
Read them below or add one

  1. ercin says:

    just visit your blog..that’s great sista. big applause

    Rating: Excellent - 5 starsExcellent - 5 starsExcellent - 5 starsExcellent - 5 starsExcellent - 5 stars
Facebook Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked by *.

Your Rating:
0 1 2 3 4 5

Categories

Contact Info

 NovrisaCha@yahoo.co.id

Top