Categories: Daily Inspiration

Siang itu matahari tengah asyik-asyiknya menggoreng penghuni bumi, panas banget ditambah ramainya suara klakson mobil yang saling bersahutan di tengah kemacetan. Itu merupakan dua hal yang paling tak kusuka di kota ini, panas dan macet. Namun mau apalagi, inilah resiko menumpang hidup di tempat orang. Tak senyaman di Pulauku yang udaranya masih menyapa dengan lembut, dan pemandangan hijaunya pepohonan berdampingan dengan birunya laut nan indah.

Ini bukan Belitung, ini Bandung!
Saat itu aku sedang berada dalam angkot, bersama Dia. Terasa sekali hawa panas diam-diam menyelinap ke tubuhku, belum lagi angin yang tak kunjung datang menambah suasana semakin tak karuan. Badanku panas, panasnya hingga terasa menjalar ke kepala, meluap-luap..
Aku ngga kuat naik angkot dalam keadaan panas dan macet seperti itu.

Melihat wajah manisku yang mulai kecut, senyum pun aku tak mampu. Dia melirik ke arahku yang sedari tadi duduk d sebelahnya. Sembari tersenyum tipis, ia mengusap-usap pundakku seraya berkata, “sabar ya, yang kuat. Bentar lagi kita nyampe kok.”

Aku hanya menjawabnya dengan anggukan kecil. Tak berapa lama kemudian, angkot yang kami tumpangi berhasil menerjang kemacetan sampai suatu ketika mobil ini berhenti di lampu merah.

Ada pengamen, pengemis, penjual rokok, minuman dan sebagainya sempat menawari kami untuk membeli barang jualannya. Tak kusangka dia membeli sebuah peta.
Ya, Peta Bandung.

Aku tak sempat bertanya untuk apa dia membeli peta itu. Sederhana saja mungkin agar tahu jalan. Maklum, kami masih sama-sama baru tinggal di kota ini.

Singkat cerita akhirnya kami sampai tujuan, aku pulang ke rumah kontrakan dan Dia pulang ke asramanya. Tapi sebelum itu, seperti biasa Dia selalu mengantarku terlebih dahulu.

Begitu sampai, dia bilang “kamu istirahat ya..” seraya menatapku dalam-dalam. Tatapan seperti inilah yang hingga kini benar-benar masih melekat dalam ingatanku.

Lalu dia membuka resleting tas hitam yang sedari tadi disandangnya. Dia mengeluarkan peta yang tadi dibelinya. “Ini buat kamu saja, biar ngga nyasar,” ujarnya santai.

Akupun mengambil benda itu dan hingga kini peta tersebut masih kutempel dinding kamarku. Hanya ditempel saja, bukan sebagai petunjuk jalan.

Karena petunjuk jalan yang dulu selalu menemaniku sudah berlalu. Untuk apa dia memberiku peta yang tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kuajukan ketika aku tak tahu jalan. Lebih baik aku membaca tulisan Arab daripada harus membaca peta. Sampai sekarang, aku buta peta!

Sesekali kupandangi peta yang menghiasi dinding kamarku berteman dengan tempelan schedule board, kaligrafi, foto-foto, dan juga bintang-bintang yang dalam gelap sinarnya akan menyala.

Aku tertegun sejenak. Kutarik nafas dalam-dalam seraya mata ini terus memandang peta itu. Akupun bergumam dalam hati, “peta Bandung saja aku tak bisa membacanya, apalagi peta hidupku dan hidupmu? Apa mungkin kita bisa bertemu lagi? Apa kamu akan kembali menjadi petunjuk jalan untukku tanpa aku harus bersusah payah membaca peta?”

Peta Bandung menyimpan rasa rindu yang terbendung. Pada Dia yang membawaku ke Bandung dan meninggalkanku di Bandung.

Spread the Word, like or share this page, your friends will also love it and thanks for it.

Tags:
Posted on Sep 11, 2013

About the Author

An extra ordinary woman, the Future Great Wife and Super Mom, comes from Belitung Island and stay in Bandung Indonesia :) Public Speaking Lover, always learning, sharing, growing, and blowing :)

4 Responses to “Peta Bandung dan Rindu Yang Terbendung”
Read them below or add one

  1. briliagung says:

    Eaaaaa…
    Melihat petunjuk-petunjuk nya.. Sepertinya “dia” itu seorang pemuda berinisial P
    AHSEG!

  2. great, petanya keren…eh tulisannya hehehe

Facebook Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked by *.

Your Rating:
0 1 2 3 4 5

Categories

Contact Info

 NovrisaCha@yahoo.co.id

Top