Skripsiku.. Prestasiku.. Inspirasiku..

Sebagai wujud baktiku padamu, dua malaikat hebat Yang Allah berikan untukku… Ku persembahkan dengan segenap kasih sayang yang tulus, Cinta yang begitu besar Demi membuat kalian Bahagia dan Bangga kepadaku.. Untukmu, kedua orang tuaku..
Categories: Daily Inspiration
Reviewed by Scoria Novrisa - Rating: 5.0

3 Tahun 7 Bulan merupakan masa kuliahku di Manajemen Pemasaran Pariwisata UPI Bandung. Memang bukan menjadi pemecah rekor MURI sebagai mahasiswa tercepat lulus kuliah. Namun ini adalah sebuah prestasi bagiku. Betapa tidak, seorang anak rantau dari Pulau Belitung, berjuang sendirian di kota Kembang tanpa keluarga, tanpa saudara tapi berhasil lulus sebagai sarjana pariwisata kurang dari 4 tahun dengan IPK 3,75. Bukan yang tertinggi tapi patut disyukuri.

Masih teringat jelas dalam brangkas masa laluku. Bagaimana aku dulunya sebagai gadis lugu yang katanya culun, cupu, ngga gaul, ngga pede-an dan pemalu banget. Setiap presentasi selalu deg-degan yang getarannya seperti pukulan beduk.. dug.. dug.. Dengan bahasa yang terbata-bata khawatir logat melayunya keluar dengan bahasa Indonesia yang begitu kaku.

Sebagai anak pariwisata, kami kuliah diwajibkan menggunakan seragam. Kerudung merah marun, kemeja putih, jas hitam, celana panjang hitam, sepatu hitam minimal berhak 5cm dan di hari-hari tertentu kami menggunakan vest atau batik. Semua diatur tak hanya dari pakaian namun juga dari make up. Mahasiswi wajib dandan! Minimal bedak dan lipstick, sedangkan bagi yang tak berkerudung rambutnya wajib dicepol.
Aku yang lugu tak biasa berpakaian ala pramugari yang rapi. Juga tak biasa menggunakan make-up. Bahkan, sebelum kuliah aku tak pernah memakai bedak sama sekali. Prinsipnya, biar hitam asal bersih. Daripada putih tapi berjerawat karena aku bukan penganut “wajah tanpa jerawat bagai langit tanpa bintang”.

Pernah ada seorang teman berkata, “Cha, udah elo ngga usah pake kerudung deh. Lebih cantik ngga pake tau.. Lepas aja.. Kalo pake kerudung, elo keliatan tua tau!”. Dalam hati ku berkata, “Jleb banget dikatain kayak gini.” Akupun berusaha menanggapinya dengan santai sembari tersenyum tipis.
“Ngga papa kok ngga cantik di mata manusia, yang penting cantik di mata Allah,”
Begitu kataku. Tak puas dengan perkataanku, ia pun melanjutkan pembicaraan, “Yaaah ngga papa kali. Lagian kan orang tua elo ngga di sini, sodara juga ngga ada, mereka ngga tau kalo elo buka kerudung. Udeh buka ajee.. Cantik lho..”

Hmmm… Kala itu aku menarik nafas sedalam-dalamnya, bahkan meteran ngga akan sanggup mengukurnya. Sambil tertawa kecil, aku berkata, “walaupun keluargaku ngga tau, tapi Allah Maha Tahu. Aku takut sama Dia.”
Itu godaan pertama dan terbesar bagiku. Lepas Kerudung! Alhamdulillah masih bertahan dan berusaha terus istiqomah. Walalupun bukan hanya itu satu-satunya godaan.

Waktu terus berlari namun aku masih tetap berjalan. Di kampus, aku hanya manusia biasa. Merasa tak menonjol cantiknya, tak menonjol juga pinternya, cenderung biasa saja. Ngga ada yang special. Itu pendapatku dahulu kala.

Sampai di titik terbawahku, aku merasa menjadi anak tak berguna! Jauh-jauh dikuliahkan orang tua, tapi apa yang kuberikan? “Kosong”.

Sampai pada semester 6, kami diwajibkan untuk magang di berbagai perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata. Aku mengambil magang di travel agent sebagai sales admin dan tour guide. Masa inilah sebagai masa kebangkitanku. Di mana aku merasa bahwa harus narsis biar eksis, lalu belajar banyak tentang cara berkomunikasi baik dengan calon wisatawan sebagai sales admin maupun sebagai tour guide ketika di lapangan. Aku pun merasa enjoy banget di sana.

Aku berpikir bahwa aku harus memiliki suatu yang lebih nantinya. Jika orang lain bisa kuliah sambil bekerja dan menghasilkan uang, maka karena aku kuliah tapi tidak sambil bekerja maka aku harus berlari melebihi kecepatan angin untuk mengejar ketertinggalanku dengan cara lulus kuliah lebih dulu. Sembari magang, aku meminta dosen pembimbingku agar bisa melakukan bimbingan skripsi by email. Alhamdulillah dosenku mengizinkan. Sambil menyelam menangkap ikan. Sambil magang sambil skripsi.

Meski jalan yang dilalui tak semulus jalan tol dan tak sehangat sinar mentari di pagi hari, tapi aku terus berjalan, sesekali berlari, sejenak beristirahat dan melanjutkan jalan perjuanganku.. Hingga akhirnya dari seangkatan, aku bisa sidang paling awal dibandingkan teman-temanku yang lain. Ini merupakan kebanggaan bagiku karena anak kampung bisa lebih cepat lulus dibandingkan anak kota. Inilah Skripsiku, Prestasiku, yang menginspirasi perjuangan hidupku.

Persembahan
Kepada Kedua Orang Tua Tercinta
Ibu Lima Putri Yani dan Babe Sueb Fadlie…

Sebagai wujud baktiku padamu, dua malaikat hebat
Yang Allah berikan untukku…

Ku persembahkan dengan segenap kasih sayang yang tulus,
Cinta yang begitu besar
Demi membuat kalian Bahagia dan Bangga kepadaku

Meski ini hanyalah sebuah perjuangan kecil dalam meraih Gelar sebagai
Sarjana Pariwisata

Namun Terimalah hasil dari kerja keras Putri Kecilmu..
Yang Selalu menyayangimu dan merindukanmu..

Bandung, 3 Mei 2013
Salam sayang,

Scoria Novrisa Dewi

Spread the Word, like or share this page, your friends will also love it and thanks for it.

Posted on Sep 15, 2013

About the Author

An extra ordinary woman, the Future Great Wife and Super Mom, comes from Belitung Island and stay in Bandung Indonesia :) Public Speaking Lover, always learning, sharing, growing, and blowing :)

Facebook Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked by *.

Your Rating:
0 1 2 3 4 5

Categories

Contact Info

 NovrisaCha@yahoo.co.id

Top